Archive for March, 2008

REUMATIK DAN ASAM URAT

Saturday, March 15th, 2008

APAKAH KELUHAN NYERI, PEGAL, LINU DI SENDI DAN OTOT-OTOT SELALU DISEBABKAN OLEH PENINGGIAN ASAM URAT ?

Tidak. Keluhan tersebut merupakan salah satu gejala atau keluhan umum dari penderita penyakit reumatik, sedangkan diketahui penyakit reumatik merupakan sekelompok penyakit yang terdiri lebih dari 100 jenis. Penyakit reumatik yang disebabkan oleh peninggian asam urat hanya merupakan salah satu jenis penyakit reumatik

MENGAPA TERDAPAT MITOS YANG MENGATAKAN BILA ADA SESEORANG YANG MENGELUH NYERI , PEGAL, LINU DI SENDI DAN OTOT-OTOT MAKA SERING DIKATAKAN BAHWA HAL ITU DIAKIBATKAN OLEH ASAM URAT ?

Mitos tersebut salah kaprah. Nyeri, pegal dan linu pada persendian tidak selalu disebabkan oleh asam urat. Seseorang yang menderita penyakit reumatik akibat asam urat harus menunjukkan gejala yang khas yang akan dijelaskan di bawah ini. Bahkan seseorang yang pada hasil pemeriksaan darahnya menunjukkan kadar asam urat darah yang agak tinggi dan mengeluh nyeri, pegal dan linu di persendian belum tentu menderita penyakit reumatik akibat asam urat, mungkin keluhan tersebut diakibatkan oleh penyakit reumatik jenis lain. Salah kaprah ini tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi pada hampir seluruh dunia, terutama di negara berkembang..

APA NAMA PENYAKIT REUMATIK YANG DISEBABKAN OLEH PENING- KATAN ASAM URAT ?

Nama penyakit ini yang umum digunakan di dunia kedokteran ialah penyakit Gout. Di beberapa daerah di Indonesia disebut pula sebagai Pirai.

Penyakit gout sebenarnya merupakan penyakit metabolik, yaitu penyakit yang disebabkan gangguan metabolisme yang dalam hal ini ialah gangguan metabolisme asam urat.

Oleh karena penyakit gout terutama menyerang sendi maka sering disebut pula sebagai Artritis Gout, perlu diketahui pula bahwa penyakit gout selain menyerang sendi dapat pula mengenai organ lain terutama ginjal. (more…)

Patofisiologi dan Penatalaksanaan Nyeri pinggang

Saturday, March 15th, 2008

Nyeri pinggang merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek dokter sehari-hari. Nyeri pinggang mencapai 30% - 50% dari keluhan reumatik pada praktek umum. Pada sebagian besar keadaan, penyebabnya tidak dapat ditentukan dalam waktu singkat tanpa pemeriksaan yang teliti serta pemeriksaan tambahan. Sebagian besar keluhan sekitar 90% akan sembuh sendiri dalam waktu singkat dan 10% nya menjadi kronis, sehinga pemeriksaan yang cermat dan sistematik pada awal keluhan perlu dilakukan untuk menghindari kelainan yang lebih serius.

Banyak klasifikasi nyeri pinggang yang kita temukan dalam literatur, tetapi tidak ada yang benar-benar memuaskan. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ada yang berdasarkan struktur anatomis (nyeri pinggang primer, sekunder, referal dan psikosomatik), ada yang berdasarkan sumber rasa nyeri (viserogenik, neurogenik, vaskulogenik, spondilogenik dan psikogenik). Sangat beragamnya klasifikasi nyeri pinggang ini antara lain dimungkinkan oleh banyaknya penyakit atau kelainan yang dapat menyebabkan nyeri pinggang. Penyebab nyeri pinggang sangat bervariasi, dari yang ringan (misalnya sikap tubuh yang salah) sampai yang berat dan sangat serius (misalnya keganasan).

Pengobatan nyeri pinggang yang tepat adalah dengan mengobati penyebabnya. Untuk itu diperlukan pendekatan multidisipliner, sebab keluhan nyeri pinggang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan medikamentosa saja, adakalanya diperlukan fisioterapi dan bahkan pendekatan operatif. (more…)

CellCept (mycophenolate mofetil)

Saturday, March 15th, 2008

Audience: Cardiac, renal, hepatic transplantation specialists, gynecologists, obstetricians, and other healthcare professionals
[Posted 10/29/2007] Roche and FDA notified healthcare providers that use of CellCept (mycophenolate mofetil) is associated with increased risk of first trimester pregnancy loss and increased risk of congenital malformations, especially external ear and facial abnormalities including cleft lip and palate, and anomalies of the distal limbs, heart, esophagus, and kidney. Based on postmarketing data from the United States National Transplantation Pregnancy Registry and additional postmarketing data collected in women exposed to systemic mycophenolate mofetil during pregnancy, the pregnancy category for CellCept has been changed from Category C (risk of fetal harm cannot be ruled out) to Category D (positive evidence of fetal risk). Labeling changes include the following sections: BOXED WARNING, WARNINGS/Pregnancy and Pregnancy Exposure Prevention, PRECAUTIONS/Information for Patients, and ADVERSE REACTIONS/Postmarketing Experience.

Within one week of beginning CellCept therapy, women of childbearing potential should have a negative serum or urine pregnancy test. In addition, women of childbearing potential (including pubertal girls and peri-menopausal woman) taking CellCept must receive contraceptive counseling and use effective contraception. Healthcare professionals and patients should be aware that CellCept reduces blood levels of the hormones in the oral contraceptive pill and could theoretically reduce its effectiveness. See the Dear Healthcare Professional Letter for additional recommendations for women of childbearing potential.

Previous MedWatch Alert:
[February 22, 2007]

PENATALAKSANAAN ARTRITIS REUMATOID

Saturday, March 15th, 2008

Artritis Reumatoid (AR) merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik yang dapat mengenai seluruh organ tubuh dengan manifestasi utama pada persendian. Penyakit ini sudah lama dikenal, tersebar diseluruh dunia dan dapat mengenai semua ras dan kelompok etnik. Etiologi dan patogenesisnya belum diketahui secara pasti, tetapi diduga faktor genetik, jenis kelamin dan infeksi mempunyai peranan yang besar dalam patogenesis penyakit ini1.

Diagnosis AR ditegakkan berdasarkan kombinasi berbagai gejala klinik, laboratorium dan radiologik yang terus mengalami penyempurnaan dari tahun ke tahun sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Gambaran klinik yang penting adalah sinovitis erosif yang kronik dan simetris pada sendi-sendi perifer. Sebagian besar perjalanannya kronik fluktuatif dan sering mengakibatkan kerusakan sendi yang progresif dan kecacatan. AR banyak mengenai usia produktif sehingga memberikan dampak ekonomi yang cukup besar 1.

Prevalensi AR bervariasi antara populasi satu dengan lainnya, di Amerika dan beberapa negara Eropa prevalensinya berkisar 1 % 2. Prevensi AR di Indonesia berkisar antara 0.3% – 0.6% 3-4 .

Pengobatan AR terus mengalami perkembangan. Pengobatan agresif dengan menggunakan DMARD secara dini pada AR terbukti mampu menghambat atau mengurangi terjadinya kerusakan sendi dan kecacatan 5.

Selama dekade terakhir ini telah banyak dilakukan penelitian tentang AR yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam konsep AR sebagai penyakit dalam berbagai bidang termasuk penatalaksanaannya. Berbagai cara pendekatan yang dahulu banyak diterima, saat ini telah banyak ditinggalkan, sebaliknya cara pendekatan yang dahulu dianggap tidak memuaskan, setelah diadakan penelitian kembali dengan metodologi penelitian yang tepat ternyata merupakan cara pendekatan yang sebenarnya amat bermanfaat. (more…)