Nyeri dan pegal-pegal akibat kerja
Dalam melaksanakan pekerjaannya, seseorang dapat terkena gangguan atau cedera, biasanya mengenai sistem persendian dan otot. Gangguan nyeri dan pegal-pegal akibat kerja lebih sering mengenai bagian lengan atas, punggung dan leher. Biasanya timbul akibat aktifitas yang berulang-ulang dalam jangka waktu lama. Istilah repetitive stress injury dan cumulative trauma disorders (CTD) digunakan untuk melukiskan kerja otot yang aktif melakukan kegiatan berulang-ulang sehingga mengalami kelelahan otot dan robekan kecil di otot, yang selanjutnya diikuti oleh peradangan, bengkak dan gangguan fungsi. Sebegitu jauh belum ada batasan yang jelas tentang pengertian cedera otot dan sendi. Pada dasarnya timbul akibat 3 kegiatan pokok, yaitu pekerjaan yang cepat dan berulang-ulang (mengetik), beban berat (memikul barang), aktifitas statik terutama pada lengan atas (mengelas).
Faktor-faktor yang berperan dalam timbulnya nyeri dan pegal-pegal akibat kerja dapat dibagi dalam 2 golongan besar yaitu faktor fisik/biomekanika.dan faktor kimia/biokimiawi. Dari ke dua faktor ini, yang lebih sering berperan ialah faktor fisik. Untuk selanjutnya pembicaraan dititik-beratkan pada nyeri dan pegal-pegal akibat faktor fisik.
a. Stres fisik akibat tempat kerja atau peralatan yang buruk.
Kontraksi (ketegangan) otot yang berlangsung lama serta pemakaian yang berulang-ulang sering mencetuskan kelelahan otot yang berkaitan dengan menurunnya kekuatan, kordinasi dan kemampuan mempertahankan aktifitas. Perbaikan disain dan tempat kerja perlu untuk menghindarkan gerakan pinggang yang berlebihan, menghindarkan posisi yang statis baik posisi tubuh maupun posisi lengan dalam memegang sesuatu. Ini telah terbukti pada situasi kerja dimana lengan dipertahankan pada posisi yang jauh dari tubuh tanpa penopang. Keadaan ini misalnya ditemukan pada pekerja pabrik perakitan mobil, montir dan tukang listrik yang sering mengerjakan sesuatu lebih tinggi daripada kepala mereka sambil memegang peralatan yang berat.
b. Kelelahan dan nyeri akibat tempat duduk yang kurang baik.
Dapat timbul keluhan berupa nyeri pada otot gluteus (pantat), nyeri pinggang dan nyeri punggung. Sehingga perlu perbaikan disain kursi yang ergonomis atau sesuai dengan bentuk tubuh manusia.
c. Benturan atau tindakan yang terakumulasi (Cumulative trauma disorders):
Pada cumulative trauma disorders(CTD) terdapat faktor risiko seperti : Aktifitas yang berulang-ulang, misalnya mengetik, mengangkat beban yang berat dengan posisi sendi yang tidak wajar, tekanan langsung. pada jari (misal tukang pijat), pekerjaan yang mempertahankan posisi tubuh terpaksa misalnya mengelas. Pekerjaan diatas menimbulkan akibat cedera saraf perifer akibat sikap tubuh yang abnormal pada berbagai situasi dan lingkungan.kerja. Mungkin terjadi pembesaran otot atau otot justru mengecil bergantung kepada ada tidaknya beban. Dapat terjadi penekanan saraf ditempat-tempat tertentu. Salah satu cedera otot akibat kerja yang sering ditemukan ialah sindroma terowongan karpal. Penderita mengeluh adanya rasa tingling (rasa tebal) pada jari 1, 2 dan 3 yang dapat membangunkan mereka malam hari. Mereka juga merasakan gangguan memegang dan kram pada ke tiga jari tersebut.
Beberapa petunjuk untuk mencegah cedera akibat mengangkat yaitu beban yang diangkat tidak melebihi 50% batas kekuatan perorangan (Personal strength limit), menghindarkan gerakan berputar sambil membawa beban; jika memang perlu berputar, putarlah panggul dan dekatkan beban kearah tubuh jika mengangkat. Petunjuk lain untuk mencegah cedera akibat mendorong atau menarik yaitu pastikan daerah dihadapan beban rata dan tidak ada yang menghalangi serta beban sebaiknya didorong, bukan ditarik. Keuntungan lain ialah pandangan kearah gerakan dengan sendirinya lebih baik dan gunakan sepatu yang kuat mencekam.
Secara umum, pengobatan CTD dilakukan dengan mengistirahatkan bagian yang terkena dengan alat bantu seperti pemasangan bidai-malam, neck braces dan korset lumbal. Penanganan fase akut dapat berupa kompres es, obat oles antiinflamasi, suntikan steroid lokal dan perujukan ke ahli fisioterapi yang dapat memberi petunjuk latihan peregangan dan penguatan yang tepat serta membimbing penderita melaksanakan program aerobik progresif untuk meningkatkan kebugaran tubuh secara menyeluruh. Tindakan pembedahan hanya dipertimbangkan jika semua tindakan konservatif gagal setelah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya selama paling sedikit 3 bulan.
Untuk mencegah berulangnya cedera, penilaian faktor risiko ditempat kerja memungkinkan diajukannya saran perubahan seperti menggunakan alat yang berbeda, mengurangi waktu bekerja ditempat dengan risiko tinggi dengan melakukan rotasi kerja atau menggunakan alat pelindung seperti bantalan dan bidai.